Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta: Sejarah, Arsitektur, Fasilitas

Lebih dari 2,5 abad, Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta berdiri dan menjadi saksi perjuangan umat Islam melawan para penjajah Belanda. Tak heran, jika masjid ini akhirnya menjadi kebanggaan masyarakat Yogyakarta. Anda mau tahu masjid ini lebih dalam?

Profil Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta

Nama MasjidMasjid Gedhe Kauman  
AlamatAlun-Alun Keraton, Jl. Kauman, Ngupasan, Kec. Gondomanan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55132
Tahun Dibangun1773
Luas Tanah16.000 m2  
Luas Bangunan2.578 m2  
Daya Tampung Jamaah1.500 Jamaah
Lokasi
Buka24 Jam

Sejarah Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta

Masjid Agung Yogyakarta, atau yang lebih masyhur dengan nama Kagungan Dalem Masjid Gedhe Kauman, menjadi bagian tidak terpisahkan dari Kasultanan Yogyakarta. Di mana masjid ini didirikan sebagai tempat beribadah bagi keluarga raja serta rakyatnya.

Merujuk pada situs resmi Masjid Gedhe Kauman, masjid ini berdiri pada hari Ahad Wage 29 Mei 1773 Masehi, atau 6 Rabiul Akhir 1187 Hijriah/Alip 1699 Jawa.

Pendirian masjid atas prakarsa Sri Sultan Hamengku Buwono I dan Kiai Fakih Ibrahim Diponingrat selaku penghulu keraton. Sedangkan untuk rancangan bangunan Masjid Gedhe Kauman dikerjakan oleh Kiai Wiryokusumo.

Saksi Perjuangan Rakyat

Sebagai salah satu masjid tertua di Indonesia, Masjid Gedhe Kauman berperan penting bagi perlawanan bangsa Indonesia dalam mengusir penjajah.

Saat itu, Tentara Rakyat Indonesia bersama para pejuang Asykar Perang Sabil secara rutin berkumpul di masjid ini untuk menyusun strategi penyerangan melawan Agresi Militer Belanda. Selanjutnya, para pahlawan yang gugur dimakamkan di sisi barat masjid ini.

Bukan hanya itu, Masjid Gedhe juga menjadi sarana perjuangan bagi Komponen Angkatan 66 dalam menumbangkan Orde Lama, maupun bagi pejuang reformasi dalam menumbangkan Orde Baru.

Arsitektur Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta

Interior masjid masih mempertahankan nuansa tradisional. Kredit Foto: Step Inside (Google.com)

Gaya arsitektur Masjid Gedhe Kauman bercorak jawa yang mengadopsi dari Masjid Demak. Ada 4 pilar utama yang dikenal dengan saka guru dengan atap berbentuk tajug lambang teplok atau bentuk atap bersusun tiga.

Nah, atap tersebut menggambarkan tahapan dalam menekuni ilmu tasawuf, yaitu syariat, thareqat, ma’rifat. Selain itu, tiga tingkat pada atap tersebut juga dapat bermakna sebagai iman, islam, dan ikhsan.

Bangunan utama masjid terdiri dari dua lantai, lantai atas serambi disangga oleh 24 tiang dan lantai bawah 32 tiang. Hebatnya tiang tersebut tetap berdiri kokoh meski telah berusia 400-500 tahun.

Ketika masuk ke ruang utama masjid, nuansa kental khas jawa akan sangat terasa. Anda akan merasa seolah berada di suasana jawa tempo dulu.

Di bagian dalam ini juga terdapat sebuah mihrab dan maksura. Maksura difungsikan sebagai tempat pengamanan raja apabila Sri Sultan berkenan sholat berjamaah di Masjid Gedhe Kauman.

Tidak jauh dari mihrab terdapat Mimbar yang berbentuk singgasana berundak sebagai tempat bagi khotib dalam menyampaikan khotbah Jumat. Mimbar terbuat dari kayu jati berhiaskan ukiran indah berbentuk ornament stilir tumbuh-tumbuhan dan bunga di prada emas.

Selain ruang inti, masjid ini juga dilengkapi dengan berbagai ruangan yang memiliki fungsi berbeda, seperti pawestren (tempat khusus bagi jamaah putri), yakihun (ruang khusus peristirahatan para ulama, khotib, dan merbot), blumbang (kolam), dan tentu saja serambi masjid.

Komplek Masjid

Bagian lain dari kompleks Masjid Gedhe pada masa sekarang adalah KUA, kantor Takmir, Pagongan yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan gamelan Sekaten.

Kemudian, ada juga Pajagan yang dulunya adalah tempat prajurit kraton berjaga dan terletak memanjang di kanan kiri gapura, serta regol atau gapura yang berbentuk Semar Tinandu dan merupakan pintu gerbang utama kompleks masjid.

Kegiatan

Selain pelaksanaan shalat 5 waktu, masjid ini juga menyelenggarakan beberapa kegiatan yang bertujuan untuk memakmurkan masjid.

Kegiatan tersebut antara lain:

  • Shalat Jumat
  • Pengajian khusus Bahasa Jawa (setiap habis subuh hari sabtu)
  • Tafsir Al Qur’an (setiap malam Ahad)
  • Remaja Masjid (setiap Ahad pagi)
  • Tafsir Kitab Kuning (setiap malam Sabtu)
  • Peringatan Hari Besar Islam
  • Takjilan buka bersama untuk 600 orang setiap hari saat bulan Ramadhan
  • Iktikaf pada 10 akhir Ramadhan
  • Kajian Ahad Pagi, dan sebagainya.

Fasilitas

Salah satu sudut masjid yang nyaman untuk dipakai istirahat. Kredit Foto: Sugiono (google.com)

Sebagai masjid milik Keraton Yogya, masjid ini memiliki berbagai fasilitas. Antara lain:

  • Sarana Ibadah
  • Tempat Wudhu
  • Kamar Mandi/WC
  • Sound System dan Multimedia
  • Penyejuk Udara/AC
  • Kantor Sekretariat
  • Perpustakaan
  • Perlengkapan Pengurusan Jenazah
  • Aula Serba Guna
  • Toko
  • Tempat Penitipan Sepatu/Sandal
  • Gudang
  • Taman
  • Parkir
  • Situs Bersejarah

Bagaimana, Anda tertarik mengunjungi masjid penuh sejarah ini?

Sumber:

http://mesjidgedhe.or.id/profil-masjid/tentang-masjid/

https://pariwisata.jogjakota.go.id/detail/index/340

https://jogja.idntimes.com/travel/destination/siti-umaiyah/masjid-gedhe-kauman-saksi-perjuangan-rakyat-indonesia/4

https://simas.kemenag.go.id/profil/masjid/41#content-sejarah

Tinggalkan komentar